Review: Everything Everywhere All at Once

 

Pernah nggak nonton film yang dalam 10 detik bisa bikin ketawa, terus tiba-tiba pengin nangis, lalu bengong sambil mikir, “Hah? Tapi kok bagus?”


Kalau pernah atau pengin ngerasain, selamat datang di pengalaman bernama
Everything Everywhere All At Once (2022).


Film garapan duo sutradara super-unik Daniel Kwan dan Daniel Scheinert (The Daniels) ini sukses bikin kata multiverse naik level. Bukan cuma soal dunia paralel, tapi soal hidup, keluarga, luka batin, dan kekacauan eksistensial… yang dibungkus dengan cara paling absurd yang pernah ada.


Di saat film superhero berlomba-lomba menampilkan ledakan paling besar dan pahlawan paling perkasa, EEAAO malah datang sambil bilang,
“Gimana kalau kita ceritakan hidup… tapi berantakan sekalian?”


Dan entah bagaimana caranya itu berhasil.

Cerita berpusat pada Evelyn Wang, seorang ibu imigran Tionghoa yang hidupnya lagi ambyar total.


Usaha laundry mau bangkrut, pajak bikin stres, pernikahan terasa datar, dan hubungan dengan anaknya makin renggang. Pokoknya, hidup versi “kok gini amat sih?”

Lalu, di satu hari yang kacau (dan terasa sangat tidak siap), Evelyn tersedot ke petualangan lintas semesta. Di sana, ia bisa menjadi berbagai versi dirinya: bintang film kungfu, koki dengan tangan sosis sampai versi-versi lain yang bikin mikir, “Ini orang-orang ngide pas ngantuk atau jenius, ya?”


Tapi justru di tengah semua kekonyolan itu, Evelyn menemukan sesuatu yang selama ini ia cari-cari:
makna dari hidupnya yang terasa gagal dan berantakan.


Yang bikin EEAAO beda adalah caranya merayakan kekacauan. Secara visual, film ini kayak tabrakan TikTok, mimpi aneh, dan krisis eksistensial. Dalam hitungan menit, penonton bisa lompat ke puluhan dunia: dunia kungfu, dunia batu, dunia sosis, sampai dunia yang bikin kita mikir, “Oke… ini aneh, tapi kok ngena?”


Dan hebatnya, semua kegilaan itu bukan asal random. Setiap dunia punya fungsi emosional. Kekacauan visualnya justru jadi representasi hidup modern yang serba cepat, penuh tuntutan, dan bikin capek mental.


Fakta serunya: efek visual film sekeren ini nggak dikerjakan studio raksasa, tapi oleh tim kecil berisi lima orang. The Daniels lebih memilih bermain dengan warna, ritme editing, dan simbol, daripada sekadar pamer CGI. Hasilnya? Unik, personal, dan berasa “hidup”.


Multiverse di EEAAO bukan cuma soal tempat, tapi emosi manusia. Evelyn hidup di banyak versi dirinya, tapi di semua dunia itu, ia tetap merasa kurang. Hingga akhirnya, ia dan Joy (anaknya) sadar: kebahagiaan bukan soal jadi versi terbaik di dunia lain, tapi menerima hidup yang sedang dijalani sekarang.


Dan di tengah semua kekacauan itu, muncullah Waymond suami yang kelihatannya lembek, tapi justru menyimpan inti filosofi film ini dalam satu kalimat sederhana:


The only thing I know is that we have to be kind.

 

Sesederhana itu. Dan entah kenapa… kena banget.


EEAAO adalah film yang nggak takut loncat genre. Ia bisa jadi film aksi, komedi absurd, drama keluarga, sampai refleksi spiritual dalam satu paket. Kamu bisa ketawa karena adegan pertarungan konyol, lalu beberapa menit kemudian nangis gara-gara pelukan ibu dan anak yang penuh penyesalan.


Bahkan adegan paling absurd dua batu diam di tepi tebing bisa berubah jadi momen paling hening dan menyentuh tentang penerimaan diri. Iya, batu doang, tapi kok nyentuh?


Siapa sangka film yang dulu ditolak banyak studio karena dianggap “terlalu aneh” ini akhirnya menyapu tujuh Piala Oscar 2023, termasuk Best Picture, Best Director, dan Best Actress untuk Michelle Yeoh. Sebuah bukti kalau penonton sebenarnya kangen cerita yang jujur, berani, dan nggak takut beda.


Pada akhirnya, Everything Everywhere All At Once bukan film yang rapi. Ia berisik, berantakan, emosional, dan kadang bikin bingung persis seperti hidup itu sendiri.

Dan lewat satu kalimat lembut di akhir film:


In another life, I would have really liked just doing laundry and taxes with you.


film ini seperti berbisik:
di antara semua kemungkinan semesta, yang paling berharga adalah hidup sederhana yang kita jalani bersama orang yang kita cintai, lengkap dengan segala kekacauannya.

Dan jujur aja… habis nonton ini, pajak dan laundry rasanya jadi sedikit lebih bermakna 🥹✨

KOMENTAR

Previous Post Next Post