Review: One Battle After Another

 

One Battle After Another menjadi pengalaman saya yang ke 10 menonton film karya sutradara Paul Thomas Anderson. Film ini merupakan adaptasi bebas dari novel Vineland (1990), dengan naskah yang juga ditulis oleh Anderson. Kisah yang dihadirkan berakar pada perjuangan politik, namun resonansinya terasa relevan dengan dinamika kekuasaan dan konflik identitas yang masih terjadi di berbagai negara hingga hari ini. Daya tarik tersebut semakin diperkuat oleh kehadiran Leonardo DiCaprio sebagai pemeran utama.


Alur cerita bergerak maju secara konsisten, dibuka dengan aksi kelompok revolusioner bernama French 75 yang menyerbu sebuah pusat tahanan demi membebaskan kelompok imigran. Dua anggotanya, Pat Calhoun (Leonardo DiCaprio) dan Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor), diperkenalkan sebagai pasangan dengan peran dan kemampuan yang saling melengkapi. Hubungan personal mereka tetap berjalan di tengah aktivitas revolusioner hingga kelahiran anak mereka, sebelum akhirnya memilih jalan hidup yang berbeda.


Enam belas tahun berselang, sisa anggota French 75 menjadi target perburuan Kolonel Lockjaw (Sean Penn), pimpinan pusat tahanan yang pernah mereka invasi. Pat kini hidup dengan identitas baru sebagai Bob Ferguson, membesarkan putrinya, Willa (Chase Infiniti), seorang diri. Sementara itu, Perfidia tetap melanjutkan aktivitas perlawanan. Ketegangan meningkat sejak babak awal melalui relasi bermuatan seksualitas antara Perfidia dan Lockjaw, yang kemudian berkembang menjadi konflik lebih luas antara sang kolonel dan para mantan anggota French 75.


Ketakutan Bob akan masa lalunya yang terbongkar akhirnya menjadi kenyataan. Namun, yang paling diburu Lockjaw bukanlah Bob, melainkan Willa. Selain kekuatan negara yang diwakili Lockjaw, cerita turut menghadirkan kelompok supremasi kulit putih bernama Christmas Adventurers Club, sekumpulan elite yang bergerak di balik kekuasaan dengan agenda pemurnian ras. Sejak pertengahan durasi, fokus narasi mengerucut pada satu tujuan utama: usaha Bob untuk menyelamatkan anaknya dari berbagai ancaman yang saling tumpang tindih.


Romansa brutal antara Pat/Bob dan Perfidia menjadi fondasi emosional yang efektif untuk membangun simpati terhadap karakter protagonis. Didukung performa para aktor dan tata musik yang mengiringi adegan-adegan berisiko tinggi, tindakan revolusioner digambarkan sebagai sesuatu yang memiliki bobot ideologis sekaligus personal. Ketika cerita bergeser untuk lebih menyoroti Willa, ketegangan tetap terjaga karena minimnya adegan yang bersifat eksesif atau tidak relevan. Seperti yang disiratkan judulnya, setiap konflik yang selesai selalu diikuti oleh pertarungan berikutnya.


Meski muatan ceritanya cenderung serius, Anderson tetap menyelipkan humor secara terukur. Salah satu contohnya hadir dalam adegan komunikasi via telepon, ketika Bob harus mengingat sandi khusus di tengah situasi pengejaran. Elemen serupa juga muncul dalam rangkaian penyamaran dan pelarian yang melibatkan Sergio (Benicio del Toro), guru karate Willa. Interaksi antara DiCaprio dan del Toro menghadirkan dinamika yang cair tanpa mengganggu ketegangan narasi, justru memperkaya lapisan karakter.


Performa Sean Penn sebagai Lockjaw menjadi salah satu aspek yang menonjol. Ia menghadirkan antagonis yang mudah dibenci, namun di saat yang sama memiliki sisi grotesk yang membuatnya tampak ironis. Penutup perjalanan karakter Lockjaw di babak akhir memberikan kejutan tonal yang kuat, menegaskan keberanian film ini dalam mengambil pilihan naratif yang ekstrem.


Anderson memilih struktur perjalanan panjang untuk meleburkan berbagai genre dan elemen sinematik. Adegan pengejaran dengan mobil curian, tindakan-tindakan absurd demi bertahan hidup, hingga baku tembak yang intens hadir berdekatan tanpa terasa tumpang tindih. Chase Infiniti sebagai Willa memperoleh porsi aksi yang proporsional, namun kekuatan emosional film ini tetap bertumpu pada relasi ayah dan anak. Unsur drama tersebut terasa hangat dan manusiawi, terutama di babak konklusi.


Adegan penutup menegaskan gagasan utama film ini: bahwa sebuah pergerakan, baik personal maupun politis, tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Dalam konteks tersebut, One Battle After Another bukan sekadar film tentang perlawanan, melainkan tentang keberlanjutan, identitas, dan konsekuensi dari pilihan-pilihan yang diambil di masa lalu.

KOMENTAR

Previous Post Next Post